Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kota Balikpapan,Muhammad Najib
Poroskaltim.com, BALIKPAPAN — Potensi besar industri oleh-oleh khas Balikpapan menjadi sorotan dalam rapat lanjutan Panitia Khusus (Pansus) LKPj DPRD Kota Balikpapan, Selasa (21/4/2026).
Rapat yang dipimpin Andi Arif Agung didampingi Raja Siraj itu turut dihadiri sejumlah anggota DPRD, di antaranya Muhammad Najib, Siska Angraini, Lim, Ryan, Aguslimin, Danang Eko, dan Halili Adi Negara.

Dalam forum tersebut, anggota DPRD Muhammad Najib secara khusus mempertanyakan arah pengembangan industri oleh-oleh yang dinilai belum menunjukkan progres signifikan, padahal Balikpapan memiliki kekayaan potensi, terutama di sektor kuliner.
Ia menilai, hingga saat ini Balikpapan belum memiliki identitas kuat sebagai kota dengan produk oleh-oleh khas yang dikenal luas, berbeda dengan daerah lain yang sudah lebih dulu membangun branding produk unggulan.
Menanggapi hal tersebut, , Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian, Heruressandy Setia Kusuma mengakui bahwa pengembangan sektor oleh-oleh masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal pendataan pelaku usaha dan pembinaan yang berkelanjutan.
Selama ini, promosi produk lokal masih bertumpu pada kegiatan seremonial seperti festival UMKM. Meski dinilai efektif sebagai ajang promosi awal, pendekatan tersebut belum cukup untuk mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
“Melalui festival, kita mendorong pelaku UMKM untuk menampilkan produknya. Dari situ kita identifikasi, lalu dikembangkan dari sisi kemasan, kualitas, hingga permodalan,” jelas perwakilan dinas.
Namun, DPRD menilai pendekatan tersebut perlu ditingkatkan menjadi strategi yang lebih terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.
Salah satu konsep yang mulai didorong adalah pengembangan kawasan sentra oleh-oleh dan wisata kuliner. Konsep ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan pengalaman bagi pengunjung, seperti memilih bahan, mengolah, hingga menikmati langsung di lokasi.
Balikpapan dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan konsep tersebut, terutama dari sektor kuliner laut seperti ikan bakar, kepiting, dan hasil perikanan lainnya.
Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diolah menjadi produk oleh-oleh bernilai tambah tinggi, baik dari sisi pengemasan, daya tahan produk, maupun branding.
Selain itu, persoalan klasik seperti keterbatasan permodalan, inkonsistensi produksi, serta belum adanya sentra produksi terintegrasi juga menjadi kendala.
DPRD mendorong agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada promosi, tetapi juga membangun ekosistem industri oleh-oleh yang kuat, termasuk kemitraan dengan sektor pariwisata.
Dengan sinergi tersebut, diharapkan Balikpapan tidak hanya dikenal sebagai kota industri dan jasa, tetapi juga sebagai destinasi kuliner dengan produk oleh-oleh khas yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. (adv/rud)
Tulis Komentar