Keterangan Gambar : Ketua Komisi II, Fauzi Adi (kedua dari kiri), saat melaksanakan sidak ke pasar pandansari. Ia menilai persoalan klasik pasar tradisional tersebut dapat diurai dengan kehadiran pasar induk Km 5.
Poroskaltim.com, BALIKPAPAN - Persoalan klasik yang selama ini terjadi di Pasar Pandansari Balikpapan berpeluang perlahan teratasi. Pemerintah Kota Balikpapan kini tengah mendorong realisasi pembangunan pasar induk di kawasan Kilometer 5, yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi penataan aktivitas perdagangan di pasar tersebut.
Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, mengatakan Pasar Pandansari selama ini memiliki fungsi ganda. Selain sebagai pasar tradisional, lokasi tersebut juga menjadi pusat aktivitas bongkar muat barang layaknya pasar induk.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab kesemrawutan yang kerap terjadi di kawasan pasar, termasuk kemacetan dan kepadatan aktivitas perdagangan.
“Pasar Pandansari ini memiliki fungsi ganda, selain sebagai pasar tradisional juga berperan sebagai pasar induk. Karena itu kami mendorong agar rencana pembangunan pasar induk di Kilometer 5 bisa segera direalisasikan,” ujar Adi sapaannya, usai melaksanakan sidak ke pasar pandansari, Selasa (10/3/2026).
Ia menegaskan, pembangunan pasar induk tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap wacana semata. Meski diakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait lahan dan anggaran, ia menilai proses perencanaan saat ini sudah menunjukkan perkembangan positif.
“Memang masih ada kendala, terutama soal lahan dan anggaran. Namun saat ini sudah ada progres, termasuk pemaparan atau ekspos desain pasar induk tersebut. Ini menjadi langkah awal yang cukup baik,” jelasnya.
Adi menambahkan, berdasarkan komunikasi dengan Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, pemerintah daerah menargetkan penyusunan Detail Engineering Design (DED) pasar induk dapat dilakukan pada tahun 2027.
“Kalau sesuai pembahasan kami dengan Dinas Perdagangan tahun lalu, DED direncanakan pada 2027. Mudah-mudahan setelah itu tidak memerlukan waktu lama untuk memulai pembangunan,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih ada beberapa persoalan yang perlu diselesaikan sebelum proyek tersebut dapat direalisasikan, salah satunya terkait status lahan yang sebagian masih bersengketa.
“Selain anggaran, persoalan lahan juga menjadi tantangan besar. Di dalam area itu masih ada lahan yang statusnya disengketakan, sehingga hal tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu,” ujarnya.
Adi berharap, apabila pasar induk di Kilometer 5 berhasil dibangun, maka aktivitas bongkar muat barang yang selama ini terjadi di Pasar Pandansari dapat dipindahkan ke lokasi baru tersebut.
Dengan demikian, Pasar Pandansari dapat difokuskan kembali sebagai pasar tradisional yang melayani kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Harapannya, jika pasar induk sudah ada, maka aktivitas bongkar muat tidak lagi dilakukan di Pandansari. Semua difokuskan di pasar induk. Dengan begitu kemacetan dan kepadatan di sekitar Pandansari bisa berkurang,” pungkasnya. (adv/man)
Tulis Komentar