Iklan Dua

Jafar Sidik Ungkap Tak Hanya Pedagang, Drainase Buruk Jadi Penyebab Jalan Rusak di Batu Ampar

$rows[judul] Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kota Balikpapan, Jafar Sidik

Poroskaltim.com, BALIKPAPAN – Keluhan warga terkait kondisi lingkungan dan infrastruktur di kawasan Batu Ampar kembali mencuat. Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kota Balikpapan, Jafar Sidik, menegaskan bahwa masyarakat pada dasarnya menginginkan lingkungan yang tertata rapi dan bebas dari persoalan, termasuk terkait aktivitas pedagang dan kondisi jalan.

Ia menjelaskan, sebelumnya sempat muncul sorotan terhadap pedagang UMKM yang berjualan di atas parit. Namun, menurutnya kondisi tersebut kini sudah tidak lagi menjadi persoalan karena pedagang, khususnya penjual ikan, telah berpindah ke lokasi yang lebih ke dalam dan tidak lagi berada di badan jalan.

“Dulu memang ada yang berjualan di atas parit, terutama penjual ikan yang posisinya dekat dengan jalan rusak. Mungkin itu yang menjadi perhatian wali kota. Tapi sekarang sudah bergeser, jadi saya pikir tidak ada masalah lagi,” ujarnya.

Jafar juga menyebutkan bahwa kondisi di wilayah RT 09 dan RT 31 saat ini relatif kondusif. Ia menduga informasi yang berkembang sebelumnya belum sepenuhnya diperbarui.

Meski demikian, ia menegaskan tetap berkewajiban menyampaikan aspirasi masyarakat. Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Batu Ampar, dirinya merasa perlu mengawal setiap persoalan yang disampaikan warga.

“Ini amanah masyarakat. Mereka bertanya kepada saya bagaimana solusinya, jadi tentu harus saya sampaikan dan perjuangkan,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa persoalan utama di kawasan tersebut bukan semata pada aktivitas pedagang atau tambal sulam jalan, melainkan pada sistem drainase yang tidak berfungsi optimal. Berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak kelurahan, dinas terkait, serta tokoh masyarakat setempat, ditemukan bahwa penyebab utama kerusakan jalan adalah genangan air.

Genangan tersebut terjadi akibat saluran drainase yang tersumbat, sehingga aliran air tidak berjalan lancar. Akibatnya, saat hujan turun, air meluap dan menggenangi badan jalan hingga mempercepat kerusakan.

“Masalah utamanya adalah air. Ada gorong-gorong yang tersumbat material sehingga aliran air terhambat. Saat hujan, air meluap dan masuk ke jalan,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Jafar mengusulkan sejumlah langkah penanganan jangka pendek. Salah satunya adalah pemasangan pipa sebagai saluran pembuangan alternatif agar air dapat mengalir dengan baik saat hujan.

Selain itu, ia juga menyarankan peninggian badan jalan agar tidak mudah tergenang, serta membuka ruang di sekitar parit untuk memperlancar aliran air.

“Kita buat solusi sementara dulu, seperti pemasangan pipa sepanjang kurang lebih 50 meter agar air punya jalur baru. Kemudian jalan ditinggikan dan saluran diperlebar supaya air tidak menggenang,” terangnya.

Ia menambahkan, langkah tersebut penting dilakukan segera tanpa harus menunggu pelaksanaan proyek dalam anggaran perubahan. Pasalnya, jika dibiarkan, kerusakan jalan akan terus berulang dan merugikan masyarakat.

“Tidak bisa menunggu satu atau dua bulan lagi. Kalau dibiarkan, nanti rusak lagi baru diperbaiki. Ini harus dicegah dari penyebabnya,” katanya.

Jafar memastikan bahwa koordinasi dengan pihak kecamatan dan instansi teknis telah dilakukan. Bahkan, rencana penanganan sementara melalui pemasangan pipa galvanis juga telah dibahas sebagai solusi cepat di lapangan.

Ia berharap, langkah-langkah tersebut dapat menjadi solusi sementara yang efektif hingga proyek perbaikan permanen direalisasikan melalui anggaran perubahan.

“Kalau ini dilakukan, saya yakin bisa bertahan sampai pekerjaan permanen dikerjakan nanti,” tutupnya. (adv/rud)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)