Keterangan Gambar : Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Jafar Sidik
poroskaltim.com, BALIKPAPAN – Komisi II DPRD Kota Balikpapan kembali
melakukan kunjungan lapangan (kurlap) ke dua instalasi pengolahan air, yakni
IPA Gunung Sari dan IPA Kampung Damai, pada Senin (13/4/2026). Kunjungan ini
merupakan tindak lanjut atas berbagai keluhan masyarakat terkait distribusi air
bersih yang belum merata serta kualitas air yang dinilai masih kerap keruh.
Sebelumnya, Komisi II juga telah meninjau fasilitas pengolahan
air di kawasan Kilometer 8 dan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan PTMB. Dari rangkaian pengawasan tersebut, DPRD menilai masih banyak
persoalan mendasar yang harus segera dibenahi, terutama terkait kapasitas
produksi air dan kondisi jaringan distribusi.
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Jafar Sidik,
mengungkapkan bahwa salah satu persoalan utama terletak pada infrastruktur
perpipaan yang sudah berusia tua. Bahkan, sebagian jaringan distribusi disebut
telah digunakan selama kurang lebih 40 tahun.
“Kondisi pipa yang sudah lama ini banyak yang mengalami
keropos, sehingga berdampak pada penurunan kualitas air sekaligus mengganggu
kelancaran distribusi ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, perbaikan jaringan menjadi hal mendesak.
Apalagi, pemerintah kota telah menargetkan pembenahan total sistem distribusi
air paling lambat pada 2027.
“Sesuai arahan wali kota, pada 2026 hingga paling lambat 2027 seluruh jaringan pipanisasi ke pelanggan harus sudah diperbaiki atau diganti. Dengan begitu, tidak ada lagi kendala distribusi yang merugikan masyarakat,” tegasnya.

Selain persoalan infrastruktur, Komisi II juga menyoroti
aspek teknis pengolahan air, khususnya penggunaan kaporit sebagai bahan
penjernih. Jafar menjelaskan bahwa kadar kaporit tidak boleh melebihi ambang
batas yang telah ditentukan, sehingga perlu alternatif lain untuk menjaga
kejernihan air tanpa bergantung sepenuhnya pada bahan kimia.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah penggunaan sistem
penyaringan berbasis bebatuan, yang dinilai lebih ramah lingkungan dan sudah
banyak diterapkan di berbagai instalasi pengolahan air modern.
“Metode filtrasi menggunakan bebatuan ini memiliki
keunggulan karena tidak mengandung bahan kimia, namun tetap efektif membantu
menjernihkan air,” jelasnya.
Lebih jauh, Jafar juga melihat adanya peluang peningkatan
kapasitas produksi air di IPA Kampung Damai. Menurutnya, selama ini pasokan air
masih sangat bergantung pada Waduk Manggar dan sumur, sehingga perlu
diversifikasi sumber air baku.
Ia mengusulkan pemanfaatan air hujan sebagai salah satu
alternatif untuk menambah debit air. Air limpasan dari bangunan-bangunan di
sekitar kawasan dapat dikumpulkan dan ditampung untuk kemudian diolah menjadi
air bersih.
“Jika dikelola dengan baik, air hujan ini tidak hanya bisa
menambah debit air, tetapi juga membantu mengurangi potensi banjir di kawasan
perkotaan,” katanya.
Komisi II DPRD Balikpapan menegaskan akan terus mengawal
pembenahan sektor air bersih, mulai dari hulu hingga hilir. Langkah ini dilakukan
agar kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih dapat terpenuhi secara
optimal, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. (adv/rud)
Tulis Komentar