Iklan Dua

Dewan Tanggapi Pedagang Takjil Gunakan Bahu Jalan, Dapat Mengundang Kemacetan

$rows[judul] Keterangan Gambar : Syarifuddin Oddang.

Poroskaltim.com, BALIKPAPAN - Anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Syarifuddin Oddang angkat bicara terkait sering macetnya kendaraan umum yang melintas dari Kilometer (Km) satu hingga Km delapan di area Kecamatan Balikpapan Utara.

Ya, macetnya kendaraan itu kerap terjadi pada waktu menjelang berbuka puasa. Selain dikarenakan dari aktivitas masyarakat yang pulang bekerja, juga diduga disebabkan maraknya pedagang takjil (makanan/minuman berbuka puasa) yang menjajahkan dagangannya di pinggir jalan, sehingga membuat kemacetan dibeberapa titik jalan umum.

Kendati begitu, Oddang sapaan karibnya meminta agar para pengendara yang melintas untuk lebih bersabar, mengingat seperti itulah momen bulan Ramadan. Di mana setiap orang masing-masing ingin mencari takjil saat hendak berbuka dan sebagainya, bahkan terkadang warga mesti berhenti di pinggir jalan sekalipun untuk membeli hidangan berbuka puasa tersebut.

"Tempo hari yang lalu kan hampir rata-rata daerah kilo itu macet, mulai dari Kilometer satu hingga di Kilometer delapan. Nah memang mental kita harus diuji, apalagi bulan puasa," ujar Oddang saat ditemui media di kantor DPRD Kota Balikpapan, Senin (3/3/2025).

Namun, ia pun meminta kesadaran bagi para pedagang makanan/minuman tersebut, begitupun kepada para pembeli, untuk lebih mematuhi aturan-aturan lalu lintas yang berlaku. Supaya tidak berdagang sampai ke bahu jalan, dan pembeli juga tidak parkir sembarangan yang dapat mengganggu kelancaran lalu lintas, khususnya pada sore hari.

"Di sore hari itu, masing-masing kan mencari untuk buka puasa dan sebagainya. Namun kami juga meminta untuk bagaimana kesiapan masyarakat (pedagang, red) agar lebih mematuhi aturan-aturan lalu lintas dan sebagainya," pintanya.

"Jangan memikirkan diri sendiri tapi juga pikirkan nasib orang lain (pengendara, red). Karena lapak dagangan mereka yang sudah hampir menggunakan badan jalan," sambung politisi Hanura itu.

Oddang sejatinya mengaku menerima saja niat para pedagang takjil saat menjajahkan jajanannya, namun ia tidak mendukung bagi penjual yang melanggar aturan, seperti berjualan hingga ke badan jalan.

"Ya bukan mendukung kalau itu pelanggaran, tapi paling tidak kita harus memberikan suatu pemahaman kepada masyarakat (pedagang, red). 

Bagi Oddang, untuk melakukan penertiban kepada pelanggar itu, juga harus dilakukan secara perlahan, dengan melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman serta sebagainya, mengingat para pedagang ini juga hanya memanfaatkan momentum Ramadan setahun sekali guna mencari tambahan.

"Nah kita mau tertibkan harus juga hati-hati walaupun itu melanggar. Karena paling tidak mereka saya lihat kan cuma sekali setahun untuk mencari tambahan di momen Ramadan. Tapi kondisi kita sekarang ini, ya mesti pandai-pandai membijaksanai kegiatan tersebut," tutupnya. (man)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)