poroskaltim.com, Samarinda - 13 Februari
2025 –
BEM FISIP Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar aksi propaganda dengan
membentangkan baliho di Fly Over Jalan Juanda, Samarinda. Aksi ini bertujuan
untuk menyadarkan masyarakat tentang berbagai isu nasional yang sedang
berkembang, terutama terkait kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Dalam aksi tersebut, BEM
FISIP Unmul menyoroti berbagai persoalan krusial melalui narasi yang tertulis
di baliho, di antaranya:
Hutan Dirusak!
Masyarakat Adat Digusur! IKN Terancam Mangkrak?! Indonesia Emas atau Cemas? Anggaran
Dipangkas!"
Selain itu, mereka juga
membentangkan baliho dengan pesan:
"Tolak Kampus
Kelola Tambang & RUU Minerba! Tambang bukan jawaban, kita butuh solusi
berkelanjutan!"
Dalam
isi propaganda ini, BEM FISIP Unmul menyoroti potensi terhentinya pembangunan
Ibu Kota Nusantara (IKN) akibat pemangkasan anggaran. Hal ini dipicu oleh
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam
Pelaksanaan APBN dan APBD yang mewajibkan pemerintah melakukan efisiensi
anggaran. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada pembangunan IKN, tetapi juga
pada dunia pendidikan yang mengalami pengurangan anggaran. Selain itu, BEM
FISIP Unmul juga menyoroti eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan serta
konflik agraria yang belum terselesaikan. Hutan yang terus dirusak dan
masyarakat adat yang tergusur menjadi sorotan utama dalam baliho propaganda.
Salah
satu isu yang turut disuarakan adalah rencana pembahasan kembali RUU Minerba di
DPR RI pada 18 Februari 2025. RUU ini mengatur pemberian Wilayah Izin Usaha
Pertambangan (WIUP) kepada kampus, yang dinilai akan memperparah kerusakan
lingkungan. BEM FISIP Unmul menegaskan bahwa kebijakan ini harus ditolak karena
akan mengancam kelestarian lingkungan dan merusak fungsi akademik kampus
sebagai pusat pendidikan dan penelitian, bukan sebagai pelaku industri
pertambangan.
Dalam
aksi ini, BEM FISIP Unmul juga mengkritik kesinambungan kebijakan pemerintahan
Prabowo-Gibran yang dinilai masih melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya
karena mengusung konsep berkelanjutan dari pemerintahan Jokowi. Mereka
menyerukan tagar #AdiliJokowi sebagai bentuk pertanggungjawaban atas
kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.
Tak
hanya itu, kritik juga disampaikan terhadap akun media sosial @pemprov_kaltim,
yang dianggap lebih fokus pada hal remeh seperti memuji ketampanan Gibran saat
berkunjung ke Samarinda, daripada membahas isu-isu krusial yang berdampak pada
masyarakat. Sebagai respons, BEM FISIP Unmul menyindir hal tersebut dengan
menyertakan tagar #GibranGanteng dalam baliho propaganda mereka.
Melalui
aksi pembentangan baliho propaganda ini, BEM FISIP Unmul berharap masyarakat
dapat lebih peka terhadap situasi politik dan kebijakan yang sedang berjalan.
Mahasiswa juga diharapkan semakin sadar akan pentingnya mengkritisi kebijakan
pemerintah, terutama yang dapat berdampak negatif, seperti pemangkasan anggaran
yang berpotensi menyebabkan PHK massal, termasuk di sektor pendidikan. Aksi ini
menjadi pengingat bahwa perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan kepentingan
rakyat tidak boleh padam, dan propaganda semacam ini adalah salah satu cara
untuk terus mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak pada kepentingan
publik.(*)
Tulis Komentar